Education | Asap Cair Tempurung Kelapa

hello everyone, happy weekend 🙂 okay hari ini aku akan memberikan sedikit pengetahuan yang aku tau soal asap cair. ini diambil dari berbagai sumber, semoga bermanfaat yaaa.

Menurut Zuraida, dkk (2009), asap cair merupakan suatu campuran dispersi asap kayu dalam air yang dibuat dengan mengkondensasi asap hasil pembakaran kayu, yang secara umum digunakan untuk pengasapan ikan dan daging.

Asap cair dapat berperan sebagai bahan pengawet apabila komponen-komponen asap meresap ke dalam bahan pangan dengan baik. Senyawa utama yang berperan sebagai antimikroba dalam asap cair adalah senyawa fenol dan asam asetat, peranannya semakin meningkat apabila kedua senyawa tersebut ada bersama-sama di dalam bahan. Asap cair pada dasarnya diolah melalui tahapan proses pirolisa, kondensasi, dan destilasi. Adapun peralatan pada pengolahan asap cair tempurung kelapa yang terdiri atas tiga komponen yaitu tangki, pirolisator, kondensor dan penampung asap cair (Utomo dkk, 2012).

Tahapan pertama proses produksi asap cair yaitu pirolisa. Pirolisa merupakan proses penguraian biomassa pada suhu lebih dari 150oC. Pirolisa terbagi atas dua tahapan, yaitu pirolisa primer sebagai tahap pertama yang merupakan pirolisa bahan baku awal pada suhu kurang dari 600oC, hasil penguraiannya adalah karbon. Sedangkan, tahap kedua adalah pirolisa sekunder terjadi antara partikel dan uap hasil pirolisa primer yang berlangsung pada suhu diatas 600oC. Hasil dari pirolisa sekunder adalah karbon monoksida (CO), hidrogen dan hidrokarbon, beserta tar (Tobacco Residue) dengan kadar 1% – 6% (Kamaruddin et al., 1999 dalam Utomo dkk, 2012).

Komponen terbanyak dalam bahan yang akan dijadikan asap cair adalah selulosa, hemiselulosa dan lignin. Maka, dalam proses pirolisa ketiga komponen tersebutlah yang terpirolisa. Pirolisa selulosa berlangsung dua tahap. Tahap pertama adalah reaksi hidrolisis asam yang menghasilkan glukosa (C6H12O6), sedangkan tahap kedua menghasilkan asam asetat (CH3COOH), air (H2O) dan fenol (C6H6O). Pirolisa hemiselulosa terbagi atas pirolisa pentosan dan heksosan. Pirolisa pentosan menghasilkan furfural (C5H4O2), furan (C4H4O) dan asam-asam karboksilat (-COOH), sedangkan pirolisa heksosan menghasilkan asam asetat (CH3COOH). Lalu, pirolisa lignin akan menghasilkan senyawa yang berperan dalam memberikan aroma asap. Senyawa tersebut adalah guaiakol (2-metoksifenol atau C7H8O2), siringol (2,6-dimetoksifenol atau C8H10O3), dan fenol (Utomo dkk, 2012).

Tahapan kedua proses produksi asap cair adalah kondensasi yaitu proses pengembunan suatu bahan yang berasal dari bentuk gas menjadi cair dengan cara melepaskan panas dari bahan ke lingkungan (eksoterm) atau dengan kata lain adalah proses pengembunan melalui cara pendinginan. Pada tahap ini, asap dari pembakaran bahan baku yang memiliki wujud gas akan diubah menjadi bentuk cair dalam alat pirolisator dan memiliki warna kecokelatan (Utomo dkk, 2012).

Tahapan ketiga pada pembuatan asap cair adalah proses destilasi. Asap cair hasil kondensasi yang masih memiliki warna kecokelatan akan dimurnikan melalui proses ini. Tahapan ini pun dapat menghilangkan beberapa jenis senyawa yang berbahaya seperti senyawa polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH) dan senyawa yang tidak diperlukan berupa benzo-(a)-piren, menghilangkan lemak dan  garam (Utomo dkk, 2012).

Asap cair terbagi menjadi tiga grade, yaitu grade 3, 2 dan 1. Asap cair grade 3 tidak dapat digunakan pada bahan pangan karena kandungan tar didalamnya yang bersifat karsinogenik. Biasanya asap pada grade 3 digunakan untuk pengolahan karet sebagai penghilang bau dan pengawet kayu agar tahan terhadap rayap (Lord, 2010).

Asap cair grade 2 dapat digunakan sebagai pengawet makanan untuk menggantikan formalin. Asap cair ini memiliki aroma asap lemah, berwarna kecokelatan transparan, dan rasa asam sedang. Sedangkan, asap cair dengan grade 1 digunakan sebagai pengawet pada bahan pangan atau makanan seperti bakso, tahu dan bumbu barbaque. Memiliki warna bening, rasa sedikit asam, aroma netral dan kualitas baik karena tidak mengandung bahan berbahaya lagi (Lord, 2010).

Asap cair sangat luas penggunaannya, salah satunya adalah untuk menggantikan pengasapan cara tradisional. Apabila menggunakan asap cair, maka aroma asap pada bahan yang diasap akan lebih baik dan penggunaannya praktis karena hanya dengan menyemprotkan atau mencelupkan bahan yang diasap, yang kemudian diikuti oleh proses pemanasan. Namun, seiring perkembangan asap cair yang semakin pesat, maka pengasapan dengan asap cair pun dapat diaplikasikan dalam proses pengawetan bahan pangan karena komponen antimikroba yang terkandung didalamnya.

yap, itu dia bahasan sekilas mengenai asap cair, so enjoy anf be healthy all, see you 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s