My Life Story | Lamunan, 22 tahun kebelakang

Malam yang sunyi aku duduk di loteng rumah, memandang sekitar berharap ada bintang malam ini. Sunyi, senyap semua beradu dengan hembusan angin malam yang cukup dingin. Ada secangkir teh manis hangat yang menemaniku, dan pikiranku melayang mengingat semua yang telah terjadi. Selama 22 tahun aku hidup, aku merasa semua sangat random. Obrolan mengenai cinta dan kasih yang orang bilang, mungkin tak dapat aku rasakan lagi sejak umur 12 tahun. Seorang ayah yang aku banggakan, dan sosok ibu yang aku idolakan sudah tak mampu aku lihat kembali dengan mataku sekarang.

img_20160218_212033_514

Aku bodoh, banyak yang tak seberuntung aku, tapi perasaan ini memang sangatlah penuh luka dan rindu. Aku habiskan waktuku hanya untuk mengejar pendidikan yang sebenarnya aku tak memahami apa yang aku lakukan dan untuk apa aku melakukannya.

Yaa, aku masih bertanya-tanya akan jadi apakah 5, 10 dan puluhan tahun kedepan? Apakah aku masih hidup? Akankah aku menjadi manusia yang berguna? Akankah aku membahagiakan keluarga yang aku cintai? Aku belum menemukan jawabannya hingga saat ini karena mungkin aku harus menjalaninya untuk tau jawabannya.

Motivasi adalah kata bijak yang memberikan kekuatan untuk membangkitkan semangat, dan aku suka memberikan hal itu pada orang lain yang memintanya. Tapi, kenyataannya aku tak mampu memotivasi diriku sendiri saat aku terpuruk, sepi dan sendiri. Lamunan yang tak berguna sering aku lakukan, memikirkan dengan keras dan memahami apakah yang aku lakukan salah.

Malam ini aku termenung, mengingat masa kecilku yang penuh dengan kebahagiaan. Aku memang tak terlahir dari orang tua yang kaya, tapi kebahagiaan yang mereka berikah lebih dari kekayaan dalam bentuk materi apapun. Tetesan air mata yang aku jatuhkan bukan menandakan ratapan akan hidupku, tapi hanya sekedar melontarkan perasaan yang hanya aku yang dapat merasakan.

Bunga yang indah sekalipun pada akhirnya akan layu juga, begitupun manusia. Tapi aku tak ingin layu dengan tidak menyisakan hal manis sama sekali untuk siapapun.

Setiap orang aku anggap memiliki ciri khas dan semangatnya masing-masing, mereka memiliki rasa masing-masing di dalam hatinya, termasuk diriku ini.

Aku melihat lagi keatas langit yang begitu gelap, dan angin malam inipun mulai berhembus kembali menusuk tulang rusukku. Aku lihat langit begitu luas, tapi didalamnya mungkin ada hal kecil yang tak aku ketahui, mungkin disana ada mimpiku yang akan aku raih kelak, mungkin..

Aku memang egois memikirkan masa depanku tanpa aku sadari bahwa diriku, keluargaku, sangat amat membutuhkan perhatianku yang sudah lama aku pakai untuk semua ini. Hanya harapan akan ada hal yang special dari Tuhan didepan sana, dan aku penasaran hal apalagi yang akan Tuhan beri dalam hidupku ini.

“Ini bumi, tempat yang luas penuh kenangan. Ada sedih, ada senang, duka, suka, ketika bisa semuanya dirasakan, hati berfungsi dengan baik” -Pidi Baiq-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s